Komentar dengan minimal 5 kata normal bisa mendapat EXP selama kuota harian tersedia.
Diskusi
Lv. 1• 7 bulan lalu
Awwww manisnya
Tapi tetep gw pingin lempar si peler ke lahar 凸( •̀_•́ )凸
Lv. 14• 8 bulan lalu
Malah ketagihan
Lv. 1• 8 bulan lalu
when yah
Lv. 9• 7 bulan lalu
Wth malah nagih
Lv. 12• 21 hari lalu
Woi lahhh anjjj maen ngokop bae ini mc
Lv. 7• 3 bulan lalu
si author kena efek samping apa ini 🫠
Lv. 1• 4 bulan lalu
emg just friend boleh cium anj 😭
Lv. 3• 4 bulan lalu
Author nya pasti kebanyakan baca villain harus di taklukkan terakhir setelah dia insaf wkwk
Lv. 2• 4 bulan lalu
Uda Uda kapan kapan aja
Lv. 24• 21 hari lalu
“when yh” bukan sekadar kata spontan yang keluar begitu saja, itu adalah betuk kecil dari keinginan.
Sebuah cara lembut untuk mengekspresikan bahwa aku juga ingin, bahwa di dalam diriku ada keinginan yang sama. Tapi di baliknya, tersembunyi perasaan yang lebin dalam.
“When yh” adalah tanya lirih pada diri sendiri, kapan gliranku untuk merasakan itu? kapan aku bisa begitu juga? Lalu setelahnya, aku diam.
Aku belajar menerima bahwa tidak semua keinginan harus dimiliki, tidak semua perasaan harus diwujudkan. Aku menatap dari jauh, menghirup kenyataan, dan perlahan melangkah pergi.
Komentar (34)
Komentar dengan minimal 5 kata normal bisa mendapat EXP selama kuota harian tersedia.
Awwww manisnya Tapi tetep gw pingin lempar si peler ke lahar 凸( •̀_•́ )凸
Malah ketagihan
when yah
Wth malah nagih
Woi lahhh anjjj maen ngokop bae ini mc
si author kena efek samping apa ini 🫠
emg just friend boleh cium anj 😭
Author nya pasti kebanyakan baca villain harus di taklukkan terakhir setelah dia insaf wkwk
Uda Uda kapan kapan aja
“when yh” bukan sekadar kata spontan yang keluar begitu saja, itu adalah betuk kecil dari keinginan. Sebuah cara lembut untuk mengekspresikan bahwa aku juga ingin, bahwa di dalam diriku ada keinginan yang sama. Tapi di baliknya, tersembunyi perasaan yang lebin dalam. “When yh” adalah tanya lirih pada diri sendiri, kapan gliranku untuk merasakan itu? kapan aku bisa begitu juga? Lalu setelahnya, aku diam. Aku belajar menerima bahwa tidak semua keinginan harus dimiliki, tidak semua perasaan harus diwujudkan. Aku menatap dari jauh, menghirup kenyataan, dan perlahan melangkah pergi.